Destinasi Pertama
: Batu Caves
Sabtu
telah tiba. Hari ini tidak ada kegiatan di bilik kuliah. Tugas peserta hanya
menyelesaikan jurnal mingguan untuk disetor ke Penanggungjawab per bahasa
paling lambat esok hari. Akhirnya, kami bersepakat menyelesaikan itu sebentar
malam dan mengisi hari sabtu dengan berpusing-pusing menikmati keindahan alam
Malaysia. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Batu Caves. Batu
Caves (Tamil: பத்து மலை; Indonesia:
Gua Batu), adalah sebuah bukit kapur, yang memiliki
serangkaian gua dan kuil gua, terletak 13 kilo meter utara Kota Kuala
Lumpur.
Untuk
mencapai Batu Caves kami menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari
Apartemen Berjaya Times Square dengan menggunakan Bus.
Memasuki
kawasan Batu Caves, tampak sebuah patung berdiri megah. Patung Dewa Murugan.
Berdiri setinggi 42.7 m (140 ft), patung Murugan merupakan patung
Dewa Hindu tertinggi di dunia, terletak di luar Batu Caves. Patung seharga
sekitar 24 juta Rupee, terbuat dari 1550 meter kubik beton, 250 ton
bar baja dan 300 liter cat emas yang didatangkan dari Thailand.
Di
sebelah kiri kawasan Batu Caves terdapat rangkain kuil yang dipergunakan
sebagai tempat ibadah umat Hindu setempat. Sementara Kuil Sri Maharamian dan
Kuil Dewa Murugan terletak di puncak. Untuk mencapai kuil yang terletak di
dalam gua, kami harus menaiki 272 anak tangga beton. Cukup melelahkan. Kami
bermandikan keringat setelah tiba di puncak tangga. Tapi, semua terbayarkan
dengan pemandangan yang cukup memesona. Yahh.... serasa sedang berada di India.
Galeri souvernir yang terdapat di dalam gua juga menjajakan souvenir khas India
dan Malaysia. Mulai dari hiasan dinding, gantungan kunci, miniatur menara
kembar, patung dewa dewi, kain sari, topeng kulit sampai makanan khas India pun
ada. Kami coba mencicipi 'ladu' makanan kegemaran Krisna di film Little Krisna.
Warnanya yang kuning, manis dan lembut bikin saya penasaran. Akhirnya buka
wikipedia dan ternyata ladu adalah suatu penganan terbuat
dari ketan yang berasal dari daerah Malangbong, Garut, Jawa
Barat. Bahan dasarnya adalah tepung ketan
putih sangrai, gula putih, gula aren merah,
dan kelapa yang sudah diparut. Kudapan ini rata-rata bisa bertahan
antara empat sampai tujuh hari setelah diproduksi.
Jauh-jauh
ke Batu Caves nyobain Ladu padahal di penganan ini asli Jawa Barat, Indonesia lho!
Kuil
Dewa Murugan ramai pagi ini dan didominasi etnis India yang lengkap dengan kain
sari sedang khusuk berdoa. Di depan kuil terdapat beberapa ekor kera yang hilir
mudik di antara pengunjung dan sekumpulan burung merpati yang terbang rendah,
tak jarang singgah di lengan atau di pangkuan pengunjung yang sedang duduk
beristirahat di kursi batu. Puas melihat-lihat dan mengambil gambar, akhirnya
saya mengumpulkan tenaga untuk menuruni tangga dan kembali berkumpul bersama
rombongan.
Selamat
tinggal Batu Caves, semoga bisa ke sini lagi.
Destinasi kedua :
Genting Highlands
Dari
Batu Caves kami melanjutkan perjalanan ke Genting Highlands. Genting
Highlands atau Tanah Tinggi Genting yang berada di ketinggian 2000 m di
atas permukaan laut adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa
di Malaysia serta menjadi tempat resort terkenal dengan nama yang
sama. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor,
tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala
Lumpur atau melalui kereta gantung Genting Skyway yang saat ini
merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara.
Genting
Highlands didirikan oleh Lim Goh
Tong dari Fujian, Cina pada awal tahun 1960-an. Sejak itu,
Genting Highlands berkembang pesat dan menghasilkan perusahaan-perusahaan
lainnya di bawah Genting Bhd, seperti perusahaan kertas, stasiun
pembangkit tenaga listrik, perusahaan perkebunan, perumahan, perusahaan minyak,
kapal pesiar, dll.
Dikenal
sebagai Las Vegas-nya Malaysia, tempat ini merupakan
satu-satunya tempat berjudi daratan yang legal di Malaysia serta
dioperasikan oleh Resorts World Bhd, anak perusahaan Genting
Group atau Genting Bhd. Resort ini juga memiliki beberapa hotel
yaitu Hotel Genting, Hotel Highlands, Hotel Resort, Hotel
Theme Park, Awana Genting, dan Hotel First World. Hotel First
World memiliki 7315 kamar, menjadikannya hotel terbesar pertama di dunia
saat ini. Fasilitas lainnya ini adalah theme park, lapangan
golf, mall perbelanjaan, simulator sky diving, hall
konser dan masih banyak lagi.
Tiba
di Genting Highlands sekitar pukul 12.00pm, kami memasuki Mal, Mal yang menyatu
dengan stasiun kereta dan gondola. Kami mencari foodcourt, dan
alhamdulilah dapat. Beraneka jenis makanan tersedia dengan harga terjangkau.
Satu hal yang membuat berbeda dengan foodcourt di Indonesia adalah cara
pembayaran makanannya. Kalau di Indonesia, tahapannya lebih simpel. Setelah
memesan makanan, kita bisa langsung membayarnya ke kasir. Kalau di Genting,
kita harus membeli sebuah kartu, mengisinya deposit tanpa batas maksimal, dan
pihak pengelola akan menambahkan sebesar 5RM sebagai jaminan. Uang jaminan dan
uang kembalian hasil transaksi baru bisa
diambil ketika kita selesai bertransaksi di kasir dan akan mengembalikan kartu.
Selesai
makan, kami menuju antrean karcis Gondola Awana Skyway. Harga karcisnya sebesar
9RM untuk gondola biasa dan 18 RM untuk gondola dengan alas kaca. Itu harga
karcis sekali jalan. Kami memilih gondola alas kaca yang transparan biar bisa
menikmati keindahan Genting dari atas. Selesai berurusan dengan karcis, kami
menuju tempat gondola berhenti untuk mengambil penumpang. Untuk membedakan
gondola alas biasa dan kaca, cukup mudah. Lihat warna tulisan di badan gondola.
Jika tulisannya merah, berarti alasa biasa. Jika tulisannya putih berarti
alasnya kaca. Akhirnya, gondola yang kami tunggu mendarat. Kami bergegas naik,
pintu gondola pun tertutup ketika melewati besi pengaman segitiga yang terletak
di pinggir lintasan. Dan.....subhanallah....walhamdulilah....akhirnya bisa
merasakan naik Gondola. Bisa menyaksikan keindahan alam dan kota genting dari
atas. Terus terang selama di dalam Gondola, ada rasa takut yang mengintai.
Takut kalau-kalau talinya putus, kacanya retak, dan masih banyak lagi ketakutan
lain. Maklum, ini pengalaman pertama. Selama ini hanya melihat Gondola dari TV.

Gondola Awana
Skyway ini beroperasi mulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 24.00 malam dan
berhenti di tiga stasiun yaitu:
1. Awana Station
(Lower Station)
2. Chin Swee
Station (Middle Station)
3. Sky Avenue
Station (Upper Station)
Jadi kita bisa
memilih mau turun di stasiun yang mana. Hari ini, karena Bus yang kami tumpangi
telah menunggu di Sky Avenue Stasion, akhirnya kami turun di Sky Avenue
Station. Dan bisa berlama-lama di dalam gondola. Perjalanan dengan kereta
gantung dari Stasiun Awana Skyway ke Sky Avenue ini kurang lebih memakan waktu
sekitar 20 menit saja. Begitu menginjakkan kaki di Sky Avenue ini kami bingung
mau ke mana.
Sky
Avenue ini adalah sebuah mall yang sangat besar dan megah. Di dalamnya ada
hotel dan casino. Kami sempat berdiri lama melihat permainan lampu yang
berwarna warni di tengah mal. Sungguh artistik. Setelah itu turun ke bawah
masuk ke lobi hotelnya. Pengunjung hari ini ramai sekali, di mana-mana saya
mendengar orang Indonesia dengan bercakap dengan sesamanya. Mungkin pengunjung
terbesar setelah turis lokal adalah WNI yang sedang liburan di Malaysia.
Bus-bus yang berjejer di depan mal sibuk menurunkan pengunjung dari Indonesia.
Tak lama kemudian, Bus yang kami tumpangi datang. Saatnya melanjutkan
perjalanan ....
Destinasi Ketiga :
Menara Kembar Petronas
Pulang
dari Genting, bus melewati Menara Kembar dan kami tidak melewatkan destina ini.
Bus lalu menepi dan semua peserta turun untuk sekadar berjalan-jalan melihat
menara ini dari dekat kemudian mengabadikan gambar.
Menara
Petronas atau Menara Kembar Petronas (bahasa
Melayu: 'Menara Berkembar Petronas') di Kuala
Lumpur, Malaysia adalah sepasang menara kembar yang pernah menjadi
bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998—2004, sebelum dilampaui
oleh Burj Khalifa dan Taipei 101. Namun, kedua menara ini masih
merupakan pencakar langit kembar tertinggi di dunia pada abad ke-20.
Menara Kembar Petronas memegang gelar sebagai bangunan tertinggi dari tahun
1998 hingga 2004 berdasarkan pengukuran dari lantai pintu masuk utama sampai
struktur atas, menurut referensi ketinggian asli bangunan yang digunakan oleh
organisasi internasional Dewan Bangunan Tinggi dan Habitat
Urban sejak tahun 1969 (tiga kategori ketinggian tambahan diperkenalkan
ketika menara ini hampir diselesaikan pada tahun 1996).
Menara
Petronas yang dirancang oleh arsitek César Pelli dari Argentina
selesai dibangun pada tahun 1998. Menara ini dibangun di atas fondasi
pacuan kuda Kuala Lumpur. Kedalaman batuan dasar menjadikan bangunan
ini dibangun dengan fondasi paling dalam di dunia. Fondasi sedalam 120 meter
itu memerlukan sejumlah beton yang tidak sedikit untuk dibangun dalam
waktu 12 bulan (1 tahun) oleh Bachy Soletanche. Menara ini menjadi ikon kota
Kuala Kumpur, dijadikan sebagai pusat perkantoran dan mal.
Kami
mengabadikan momen jalan-jalan di depan dan belakang menara karena untuk menaiki menara ini, gak bisa lagi. Sudah tutup kata sekuritinya. Akhirnya kami
memilih berpusing-pusing di mal KLCC walau hanya sebentar. Jam menunjukkan
pukul 07.00pm, sudah menjelang magrib
dan kami harus tiba di Apartemen sebelum pukul 08.00pm. Ada kedai Taste of Asia
yang menunggu kami di lantai dasar Mal Berjaya Times Square. Kedai itu menjual ragam
makanan yang sesuai dengan lidah orang Asia dan harga yang ramah di kantong.
Saking ramahnya 😁😁😁, kedai itu memberi diskon 50% setiap pukul 08.00pm. Dengan uang
senilai 5RM, kita sudah bisa menikmati sepiring nasi panas, ikan goreng tepung,
cah kangkung, tahu tempe, telur ceplok dan sambel. Indonesia banget kan???
Untuk teman-teman yang ingin mengunjungi ketiga
tempat tersebut sebaiknya meluangkan waktu sehari penuh, berangkatnya harus
pagi-pagi, agar puas berjelajah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Hari sabtu yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Setelah lima hari kami
berkutat dengan materi HOTs dan Pedagogy di dalam bilik kuliah, alhamdulilah
hari ini diberi kesempatan untuk merefresh kepala, melihat destinasi wisata
yang ada di Kota kuala Lumpur dan sekitarnya.
Sumber data:
wikipedia
Foto: koleksi
pribadi