Sabtu, 09 Maret 2019

Jurnal Minggu Pertama “Mengapa Metakognitif itu Penting?”







Seperti itulah gambaran metakognif yang dituliskan Prof. Zahari Othman dalam hand out yang dibagikan. Kami diminta merepresentasikan tulisan di atas menurut pemahaman kami. Dibantu google terjemahan, akhirnya saya mewakili kelompok untuk menyimpulkan bahwa metakognitif itu sebuah sikap mental, kesadaran berpikir tentang apa yang kita pikirkan, merencanakan berbagai tindakan untuk mengekseskusi pemikiran kita tersebut lalu memilih dan menetapkan strategi yang tepat untuk merealisasikan pikiran, mengontrol atau memonitoring sejauh mana perkembangan dari apa yang telah kita lakukan, kita nilai hasilnya. Jika berhasil, berarti hal tersebut bisa diteruskan dan jika belum berhasil berarti saatnya untuk merevisi kembali rencana yang telah kita buat dan menentukan strategi yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan.
Ada banyak tanggapan dari peserta kelas, dan tanggapan peserta pun hampir sama. Metakognitif itu ‘berpikir tentang berpikir’ atau thinking about thinking. Dengan kata lain, metakognitif adalah pengetahuan tentang proses-proses berpikir kita sendiri. Mengetahui apa yang dilakukan, bagaimana melakukannya, mengetahui prasyarat untuk menyakinkan kelengkapan tersebut, dan mengetahui kapan melakukannya.  
Jika dipikir, dalam proses perkuliahan selama seminggu terakhir ini, sesungguhnya aktivitas metakognitif  telah lahir dan bertumbuh. Saya sendiri telah melakukan refleksi tindakan berupa sikap mental, kesadaran untuk memahami istilah-istilah baru yang diucapkan dua Profesor yang berbeda. Belajar dibimbing dosen yang menggunakan bahasa Inggris sesekali Melayu dengan aksen English yang ‘berbeda’ membuat saya harus berpikir untuk berpikir. Saya harus berusaha untuk menerima, menyimpan, mencari tahu, dan mengolah informasi yang diperoleh melalui proses pembelajaran. Diawali dengan proses penerimaan informasi secara sadar, informasi tersebut saya catat, pahami kemudian menentukan langkah untuk menyampaikan apa yang saya pahami dan belajar menuangkan lewat tulisan. Dari catatan-catatan tersebut, akhirnya saya memilah mana yang bisa dituangkan dalam tulisan dan dipublikasikan di sosial media. Setelah dipublikasikan, tentu ada komentar yang menyertai, berisi masukan untuk perbaikan dan pertanyaan-pertanyaan. Tujuan awal untuk berbagi pengalaman belajar lewat tulisan sederhana akhirnya tersampaikan walau masih jauh dari sempurna.

Menilik Metakognitif dalam Proses Pembelajaran
Apapun yang telah dipelajari seminggu terakhir hanya kan menjadi teori jika tidak diaplikasikan di dalam kelas. Nah, misi penting setelah kembali ke tanah air adalah mengaplikasikan ‘metakognitif’ dalam proses pembelajaran. Peserta didik hendaknya dilatih untuk mempunyai kemampuan berpikir kritis level metakognitif (level tertinggi) karena konsep pemikiran kritis tentu saja akan berpengaruh dengan kesadaran metakognitif peserta didik itu sendiri. Peserta didik dapat mencermati berbagai persoalan yang setiap saat akan hadir dalam kehidupannya, mereka akan tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan, mampu menyelesaikannya dengan tepat, dan mampu mengaplikasikan materi pengetahuan yang diperoleh di bangku sekolah dalam berbagai situasi berbeda dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Metakognitif ini jelas memberikan isyarat sekaligus pesan bahwa apa yang kita capai hari ini adalah realisasi dari beberapa rencana-rencana yang telah dilakukan sebelumnya dan akibat dari sebuah pilihan-pilihan kita di masa lalu. Memilih belajar bersungguh-sungguh, memahami teori dan konsep akan mengantarkan seseorang bisa terampil dalam suatu bidang, begitupun sebaliknya. Memilih bermalas-malasan, belajar seperlunya saja, maka hasilnya akan biasa-biasa saja, dan tidak menutup kemungkinan akan mengalami kegagalan.

Sebagai contoh  peserta didik yang  memiliki kemampuan memahami materi tertentu, misalnya memahami teks prosedur kompleks. Untuk menilai kemampuannya dalam memahami dan menyusun teks prosedur kompleks ia membuat catatan. Apa itu teks prosedur kompleks, bagaimana struktur teks dan kaidah kebahasaan prosedur kompleks, bagaimana langkah-langkah menyusun sebuah teks prosedur kompleks.  Berdasarkan catatan tersebut peserta didik mampu secara mandri memproduksi teks prosedur kompleks. Dari teks prosedur kompleks yang telah dibuat, peserta didik kemudian dapat melakukan refleksi diri atas kekurangan dan kelebihannya. Apakah langkah-langkah dalam teks tersebut sudah benar atau masih perlu dilengkapi lagi. Apakah teks tersebut sudah memuat struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat?. Dengan pengontrolan atau pemantauan proses kognitif akan mudah dilakukan evaluasi perolehan kognitif sendiri.
Ketika peserta didik sudah mampu merancang, memantau, dan merefleksikan proses belajar mereka secara sadar, mereka akan menjadi lebih percaya diri dan lebih mandiri dalam belajar karena kemandirian belajar merupakan modal utama peserta didik untuk meneruskan perjalanan panjang mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual dan menemukan dunia informasi yang tak terbatas. 

Arni Susanti Oktavia
Guru SMK Negeri 2 Wajo, Sulawesi Selatan, Indonesia
Peserta Program Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan ke Luar Negeri  Tahun 2019

Ditulis di Berjaya Times Square, Lantai 37 Kamar 17
Pada minggu pagi yang cerah di bulan Maret.

#GuruIndonesiaAgenPerubahan
#UniversityofMalaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar