Seperti itulah gambaran
metakognif yang dituliskan Prof. Zahari Othman dalam hand out yang dibagikan. Kami
diminta merepresentasikan tulisan di atas menurut pemahaman kami. Dibantu google
terjemahan, akhirnya saya mewakili kelompok untuk menyimpulkan bahwa metakognitif
itu sebuah sikap mental, kesadaran berpikir tentang apa yang kita pikirkan,
merencanakan berbagai tindakan untuk mengekseskusi pemikiran kita tersebut lalu
memilih dan menetapkan strategi yang tepat untuk merealisasikan pikiran,
mengontrol atau memonitoring sejauh mana perkembangan dari apa yang telah kita
lakukan, kita nilai hasilnya. Jika berhasil, berarti hal tersebut bisa
diteruskan dan jika belum berhasil berarti saatnya untuk merevisi kembali
rencana yang telah kita buat dan menentukan strategi yang akan ditempuh untuk
mencapai tujuan.
Ada banyak
tanggapan dari peserta kelas, dan tanggapan peserta pun hampir sama. Metakognitif
itu ‘berpikir tentang berpikir’ atau ‘thinking about thinking’. Dengan
kata lain, metakognitif adalah pengetahuan tentang proses-proses berpikir
kita sendiri. Mengetahui apa yang dilakukan, bagaimana melakukannya, mengetahui
prasyarat untuk menyakinkan kelengkapan tersebut, dan mengetahui kapan
melakukannya.
Jika dipikir, dalam
proses perkuliahan selama seminggu terakhir ini, sesungguhnya aktivitas metakognitif
telah lahir dan bertumbuh. Saya sendiri telah
melakukan refleksi tindakan berupa sikap mental, kesadaran untuk memahami istilah-istilah
baru yang diucapkan dua Profesor yang berbeda. Belajar dibimbing dosen yang
menggunakan bahasa Inggris sesekali Melayu dengan aksen English yang ‘berbeda’
membuat saya harus berpikir untuk berpikir. Saya harus berusaha untuk menerima,
menyimpan, mencari tahu, dan mengolah informasi yang diperoleh melalui proses pembelajaran.
Diawali dengan proses penerimaan informasi secara sadar, informasi tersebut
saya catat, pahami kemudian menentukan langkah untuk menyampaikan apa yang saya
pahami dan belajar menuangkan lewat tulisan. Dari catatan-catatan tersebut,
akhirnya saya memilah mana yang bisa dituangkan dalam tulisan dan
dipublikasikan di sosial media. Setelah dipublikasikan, tentu ada komentar yang
menyertai, berisi masukan untuk perbaikan dan pertanyaan-pertanyaan. Tujuan
awal untuk berbagi pengalaman belajar lewat tulisan sederhana akhirnya
tersampaikan walau masih jauh dari sempurna.
Menilik Metakognitif dalam Proses Pembelajaran
Apapun yang telah
dipelajari seminggu terakhir hanya kan menjadi teori jika tidak diaplikasikan
di dalam kelas. Nah, misi penting setelah kembali ke tanah air adalah
mengaplikasikan ‘metakognitif’ dalam proses pembelajaran. Peserta didik hendaknya
dilatih untuk mempunyai kemampuan berpikir kritis level metakognitif
(level tertinggi) karena konsep pemikiran kritis tentu saja akan berpengaruh
dengan kesadaran metakognitif peserta didik itu sendiri. Peserta didik dapat
mencermati berbagai persoalan yang setiap saat akan hadir dalam kehidupannya, mereka
akan tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan, mampu menyelesaikannya dengan
tepat, dan mampu mengaplikasikan materi pengetahuan yang diperoleh di bangku
sekolah dalam berbagai situasi berbeda dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Metakognitif ini jelas memberikan isyarat sekaligus pesan bahwa apa yang kita capai
hari ini adalah realisasi dari beberapa rencana-rencana yang telah dilakukan
sebelumnya dan akibat dari sebuah pilihan-pilihan kita di masa lalu. Memilih
belajar bersungguh-sungguh, memahami teori dan konsep akan mengantarkan seseorang
bisa terampil dalam suatu bidang, begitupun sebaliknya. Memilih bermalas-malasan,
belajar seperlunya saja, maka hasilnya akan biasa-biasa saja, dan tidak menutup
kemungkinan akan mengalami kegagalan.
Sebagai contoh peserta didik yang memiliki kemampuan memahami materi tertentu,
misalnya memahami teks prosedur kompleks. Untuk menilai kemampuannya dalam
memahami dan menyusun teks prosedur kompleks ia membuat catatan. Apa itu teks
prosedur kompleks, bagaimana struktur teks dan kaidah kebahasaan prosedur
kompleks, bagaimana langkah-langkah menyusun sebuah teks prosedur kompleks. Berdasarkan catatan tersebut peserta didik
mampu secara mandri memproduksi teks prosedur kompleks. Dari teks prosedur
kompleks yang telah dibuat, peserta didik kemudian dapat melakukan refleksi
diri atas kekurangan dan kelebihannya. Apakah langkah-langkah dalam teks tersebut
sudah benar atau masih perlu dilengkapi lagi. Apakah teks tersebut sudah memuat
struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat?. Dengan pengontrolan atau pemantauan
proses kognitif akan mudah dilakukan evaluasi perolehan kognitif sendiri.
Ketika peserta didik sudah
mampu merancang, memantau, dan merefleksikan proses belajar mereka secara
sadar, mereka akan menjadi lebih percaya diri dan lebih mandiri dalam belajar
karena kemandirian belajar merupakan modal utama peserta didik untuk meneruskan
perjalanan panjang mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual dan menemukan dunia informasi yang tak terbatas.
Arni Susanti Oktavia
Guru SMK Negeri 2 Wajo,
Sulawesi Selatan, Indonesia
Peserta Program Pelatihan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan ke Luar Negeri
Tahun 2019
Ditulis di Berjaya
Times Square, Lantai 37 Kamar 17
Pada minggu pagi yang
cerah di bulan Maret.
#GuruIndonesiaAgenPerubahan
#UniversityofMalaya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar